Tips Melamar Gadis Jepang
Saya teringat akan fakta yang diungkapkan oleh rekan saya tentang kehidupan asuransi di Jepang. Beda dengan kita, di Jepang kehidupannya sangatlah insurance-minded. Disana asuransi bukanlah pilihan (optional) melainkan merupakan kebutuhan. Jadi hampir serupa dengan kehidupan asuransi di Amerika Serikat seperti yang saya tuangkan disini.
Insurance-minded berarti hampir segala sesuatu yang dilakukan haruslah terlindungi (ter-cover) ataupun menyinggung asuransi. Dari hal pekerjaan, konstruksi proyek, kesehatan, properti, perjalanan, dan asuransi jiwa sudah barang tentu. Bahkan untuk urusan memilih jodoh pun melibatkan asuransi.
Layaknya seorang pria yang telah cukup umur dan hendak melamar gadis pujaannya, maka datanglah Si Pria ini menghadap orang tua Si Gadis guna melamar putri mereka. Lazimnya orang tua, mereka tentu akan bertanya tentang “bebet-bibit-bobot” Si Calon mantu. Uniknya mereka cukup bertanya dengan satu kata.
“Berapa besar UP (uang pertanggunganmu), nak?”
Jangan heran, karena hampir semua orang disana memiliki polis pribadi mereka. Jika pertanyaan itu dikemukakan disini, istilah UP aja belum tentu familiar di telinga para jejaka tanah air, apalagi memiliki asuransi atas nama mereka sendiri.
Adapun maksud Si Bapak Jepang menyanyakan besarnya UP kepada calon matunya adalah guna memprediksi :
1. Besar penghasilan.
Semakin besar kemampuan seseorang untuk mendapatkan penghasilan tentu makin terasa mahal “harga” seseorang bila harus diukur menggunakan kacamata materi. Analogi serupa dapat diambil ketika seseorang ingin mengasuransikan mobil mikrolet dengan mobil ferarinya. Sudahbarang tentu lebih mahal biaya yang dikeluarkan untuk menjaga mobil ferari bukan.
Dengan menanyakan besarnya UP tentu kita mampu memprediksi berapa penghasilannya. Karena besarnya UP akan berbanding lurus dengan besarnya polis yang dibayarkan perbulan dan tentu saja akan berbanding lurus dengan besarnya penghasilan Si Calon mantu. Intinya tanpa perlu langsung bertanya besar penghasilan si bapak sudah mampu memetakan posisi jejaka kampung yang hendak melamar putrinya. Tidak terlalu melukai harga diri jejaka bukan.
2. Kemampuan untuk merawat istrinya kelak (putri Si bapak).
Selanjutnya Si Bapak akan membandingkan dengan besarnya UP yang dia miliki atas namanya. Bila UP nya lebih besar dari si pemuda maka ditolaklah lamaran si pemuda tersebut. Sebaliknya, bila UP si bapak lebih kecil daripada UP si pemuda maka diterimalah lamarannya.
Terkesan materealistis, tapi menurut saya malah terkesan realistis. Si Bapak hanya tidak ingin anaknya terlantar kelak. Bila sesuatu terjadi pada kepala keluarga (pemuda itu) kelak, dia tidak ingin anaknya terlantar tanpa jaminan penghasilan.
“Biar saja si anak hidup dari UP-ku saat aku meninggal kelak daripada hidup dengan UP pas-pasan si pemuda.”
3. Sayang orang tua
Dengan memiliki polis asuransi yang memiliki nilai tunai, sudah barang tentu ada pihak yang ditunjuk sebagai ahli waris. Karena ketentuan hukum asuransi untuk penunjukan ahli waris terbatas kepada mereka yang memiliki hubungan sedarah/kekeluargaan/semenda terdekat maka sudah barang tentu orang tua mereka-lah yang paling dahulu ditempatkan sebagai pihak yang menerima ahli waris.
Hal kecil seperti ini mungkin luput dari pengamatan kita, tapi tidak bagi seorang calon mertua. Sang calon mertua akan dengan rela memberikan putrinya kepada kita untuk dipersunting karena dianggap kita sebagai figur yang sayang pada orang tua.
So, sudah siapkah anda melamar gadis jepang? Jika harus, saya sudah siap kok. Bagaimana dengan anda?



Saya punya teman yang sudah nikah dgn orang cewek jepang. Walaupun orang tua si cewek kurang setuju (lbh krn alasan agama, bukan penghasilan) toh mereka tetap merelakan anaknya disunting koq. Alasan utama mengapa si bapak mertua nggak liat latar ekonomi si pemuda cuma satu doang. Anak perempuannya kerja dan punya penghasilan sendiri, dan rata2 memang perempuan Jepang bisa menanggung diri sendiri secara ekonomi.
@ mas ando
yup betul mas. cewek jepang memang terkenal mandiri dan ulet. mungkin perihal memiliki asuransi jiwa ini hanya merupakan nilai plus yang dinilai oleh calon mertua kelak. tidak ada salahnya kita mengambil contoh yang baik dari suatu peristiwa ya mas. kapan-kapan mbok ya saya diajak bertukar pengalaman dan diajari jepang-isme mas. sukses ya
wah,kalo nunggu UP kita sama dengan camer,,brarti nikahnya nuggu setua camer nya dulu dir,,biar sama mapannya,wkwkwkwk
@ andre
setidaknya kita ga maju dengan tangan kosong bro andre. wkwkwkwkwkwkwk…..toh mereka pernah muda juga dulu. kalo di indonesia mah gampang, masih dikit camer yang punya asuransi jiwa.
waduh… gimana kalo cuma punya modal sebidang tanah sawah.. kira2 lamaran saya di terima ngga yach..hehehe tapi saya kan taat bayar pajak…
salam kenal
http://aresaja.wordpress.com
kira-kira “sebidang” itu berapa hektar ya dan lokasi dimana ya?
hehehehehe…..salam kenal juga.